Jumat, 12 Januari 2018

sejarah parangtritis

Banyak sekali cerita sejarah maupun mitos yang berkembang di balik nama Parangtritis. Seakan-akan menyimpan seribu cerita yang menarik untuk diketahui selain untuk dinikmati panoramanya. menurut cerita masyarakat, dahulu kala ada seorang bernama Dipokusumo yang melarikan diri dari Kerajaan Majapahit.
Tatkala itu ia sedang bersemedi, melihat dari celah-celah batu karang yang menjatuhkan banyak tetesan air. Dalam bahasa Jawa, karang disebut juga dengan “paran”. Sedangkan tetesan air itu disebut dengan “tumatitis”, sehingga jadilah nama daerah itu dengan sebutan “Parangtritis” artinya air yang menetes dari batu. Mungkin cerita itu menjadi salah satu asal usul Pantai Parangtritis Daerah Istimewa Yogyakarta.

Cerita Pantai Parangtritis

Sudah banyak yang tau kan kalau Pantai Parangtritis diyakini menjadi bagian dari perwujudan kesatuan trimurti untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. yakni benda, icon ataupun lainnya yang sangat melekat dengan sisi mistis kota Jogjakarta. Trimurti terdiri dari Gunung Merapi yang mempunyai elemen api, Pantai Parangtritis yang mempunyai elemen air dan Keraton Jogja berperan sebagai penyeimbang keduanya. Yang letak semuanya itu membentuk garis lurus dari utara ke selatan daerah Jogja.

Mitos Pantai Parangtritis

Selain cerita di atas, berkembang pula Misteri Pantai Parangtritis di masyarakat setempat bahkan wisatawan dari luar pun percaya jika Pantai Parangtritis adalah pintu gerbang Istana Kerajaan Laut Selatan merupakan bagian dari daerah kekuasaan Ratu Selatan yang dipimpin oleh Nyai Roro Kidul.

Sejarah borobudur



Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini berlokasi di kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar abad ke-8 masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia,H[1][2] sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.[3]

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[4] Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.[3] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.[5] Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.[6] Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.[3]

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah objek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: Support@templateism.com

Our Team Memebers